Tampilkan postingan dengan label Tokoh Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Alkitab. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

7 Fakta Menarik tentang Rasul Petrus

Anda tentu tahu bahwa Petrus adalah seorang murid Yesus yang menjadi rasul pada masa jemaat mula-mula. Akan tetapi, sering sekali gambaran tentang Rasul Petrus menjadi kabur bagi kita dan bercampur dengan pandangan-pandangan yang kurang jelas. Nah, di sini Anda akan melihat 7 fakta tentang Rasul Petrus yang membantu Anda lebih kenal tentangnya:

1. Namanya asli Rasul Petrus adalah Simeon, tapi dalam Alkitab Terjemahan Baru sering disebut dengan Simon. Jadi nama ‘Petrus’ sebenarnya hanya merupakan nama panggilan: Kephas (Bhs. Aram), Petrus (Bhs. Yunani) keduanya berarti Batu Karang. Nama Petrus yang berarti “Batu Karang”, dipilihkan Yesus untuk menetapkan bahwa Petrus akan menjadi Batu Karang, layaknya pondasi di mana Gereja akan dibangun. Itu sebabnya ia menjadi salah satu pemimpin Kristen dalam jemaat Kristen mula-mula. Ada juga beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Petrus merupakan pemimpin atas seluruh rasul pada masa jemaat mula-mula.

2. Petrus dilahirkan dan besar di Betsaida, Provinsi Galilea. Betsaida ditempati oleh kebanyakan orang Yunani (Yohanes 1:44). Tapi ada juga rumah Petrus di Kapernaum di Galilea (Markus 1:21 dab). Kedua kota itu terletak di tepi pantai Danau Galilea, tempat Petrus mencari nafkah sebagai nelayan. Di kedua kota itu terbuka banyak sekali hubungan dengan bangsa-bangsa non-Yahudi. Rasul Petrus menggunakan bahasa Aram dengan logat khas utara. Ayahnya bernama Yunus (Matius 16:17). Paulus mengindikasikan bahwa Petrus punya istri dan sering menemaninya dalam perjalanan misinya (1 Korintus 9:5).

3. Andreas, saudara Simon Petrus mulanya adalah murid Yohanes Pembaptis dan menjadi murid pertama Yesus. Kemudian, Andreaslah yang memperkenalkan Petrus pada Yesus (Yohanes 1:39, 41 dab). Meskipun Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis, kenyataannya Petrus sendiri sebelumnya juga sudah dipengaruhi gerakan Yohanes (bnd Kisah Para Rasul 1:22).

4. Kita umumnya tahu bahwa Petrus hanya menulis Surat I dan II Petrus. Tapi, sebenarnya ada juga tulisan lain atas nama Petrus: Kisah Petrus, Injil Petrus, Khotbah Petrus, Wahyu Petrus, dan Penghakiman Petrus. Akan tetapi semua tidak dicantumkan dalam Alkitab. Semua kitab tersebut digolongkan dalam tulisan Apokrif. Sesuatu kitab tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab karena biasanya keaslian isi dan ‘wibawa’ apostliknya diragukan.

5. Petrus disalibkan pada masa Nero secara terbalik, karena menganggap dirinya tidak pantas disalibkan seperti Yesus. Akan tetapi pandangan ini hanya didasarkan pada tulisan seorang Bapa Gereja bernama Origenes dalam Eusebius. Ia mengatakan, “Petrus disalibkan di Roma dengan posisi kepala berada di bawah, sebagaimana yang diinginkannya sendiri.” Hal ini sejajar dengan Kitab Kisah Rasul Petrus yang kita ragukan keasliannya tadi.

6. Orang Katolik percaya bahwa tulang-belulang Petrus dikuburkan di bawah Basilika Santo Petrus. Mereka juga percaya bahwa Petrus adalah Bishop pertama kota Roma pada masanya. Dan meskipun Petrus tidak pernah menyebut dirinya sendiri sebagai Paus, orang Katolik menyebutnya sebagai Paus yang pertama. Dengan demikian, seluruh Paus yang akan ada dan pernah ada dalam Gereja Katolik dianggap sebagai penerus jabatan Rasul Petrus tadi.

7. Dalam ikonografi tradisional, Petrus sering dilukiskan sebagai pria kekar agak tua dengan wajah yang sedikit agresif dan jenggot pendek. Kadang rambutnya digambarkan berwarna putih atau malah digambarkan dengan kepala botak. Akan tetapi gambaran mengenai Petrus ditambahkan pada masa Abad Pertengahan. Pada masa itu Petrus sering dilukiskan dengan memegang 2 anak kunci atau tergantung di pinggangnya (pertama kali dilukiskan pada abad VIII AD). Kedua kunci ini dihubungkan dengan kunci Kerajaan Sorga yang diberikan Yesus padanya (Matius 16:19). Kunci pertama itu adalah representasi kunci surga, sedangkan kunci yang kedua adalah representasi kunci bumi.

Nah, bagaimana menurut Anda 7 fakta menarik tentang Rasul Petrus ini? Menarik bukan?

Kisah Hidup Simon Petrus Dalam Injil

Simon Petrus adalah salah satu dari 12 rasul Yesus, Nama aslinya Simon. Petrus atau Kefas ("Kefas" [bahasa Aram] = 'batu' atau “batu karang”, bahasa Yunani maskulin: "Petros", feminim: "Petra") adalah nama yang diberikan Yesus kepadanya (Mrk 3:16; Luk 6:14; Yoh 1:42). Ia adalah seorang nelayan dari Galilea yang diberi posisi pemimpin oleh Yesus (Mat 16:18, Yoh 21:15-16) dan dipandang demikian pula oleh Rasul lainnya (Yoh 21:3).

Latar Belakang
Menurut Injil Yohanes Petrus lahir di Betsaida, Galilea (Yoh 1:44). Ayahnya bernama Yohanes (Yoh 1:42)/Yunus (Mat 16:17). Petrus & Andreas bekerja sebagai penjala ikan (Mat 4:18). Dari kesaksian Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mat 8:14-17; Mrk 1:29-34; Luk 4:38-41) diketahuilah bahwa Petrus sudah menikah.

Panggilan Yesus
Petrus dan saudaranya, Andreas, adalah rasul-rasul pertama yang dipanggil oleh Yesus (Yoh 1:35-42). Petrus sedang mencari ikan di danau Genesaret ketika Yesus menghampiri dan berkata, "Mari, ikutlah Aku, & kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Mat 4:19). Versi Injil Yohanes menceritakan bahwa Andreas, yang sebelumnya adalah murid Yohanes, dialah yang pertama kali bertemu Yesus & membawa Simon, saudaranya, kepada Yesus (Yoh 1:35-42) .

Tiga Besar
Petrus & dua rasul bersaudara anak-anak Zebededus, yakni Yakobus & Yohanes, adalah tiga rasul yang secara khusus seringkali disertakan atau diajak atau dibolehkan Yesus untuk mendampingi-Nya (mis. Mat 17:1; 26:37; Mrk 9:14; Luk 9:28). Dengan jelas Injil Markus & Lukas menuliskan bahwa Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta dengan-Nya saat Ia hendak membangkitkan anak Yairus, seorang kepala rumah ibadat, kecuali ketiga rasul ini beserta ayah & ibu anak itu (Mrk 5:37; Luk 8:51).

Sesekali Petrus menahan dirinya dari bertanya atau berkomentar. Mungkin Petrus sendiri menyadari bahwa dari antara para rasul ia saja yang selalu banyak berkomentar atau bertanya. Namun Petrus tidak dapat menahan dirinya dari rasa ingin tahu. Ketika Yesus bicara tentang murid yang akan mengkhianati-Nya, kali itu Petrus memilih tidak bertanya langsung kepada Yesus melainkan meminta Yohanes untuk menanyakan pertanyaannya tentang siapa murid yang dimaksudkan oleh Yesus itu (Yoh 13:24). Di lain pihak, karena Petrus suka bertanya maka Yesus juga menantang Petrus untuk memberikan pendapatnya (Mat 17:25-26) atau mengajukan pertanyaan yang tidak diduga oleh Petrus (Yoh 21:15-17).

Penuh Semangat, Cepat Mengaku, Cepat Mengikari
Ketika Yesus menanyakan tentang siapakah Yesus dalam pandangan murid-murid-Nya, Petrus langsung menjawab bahwa Yesus adalah Mesias (Mat 16:16;Mrk 8:29;Luk 9:20). Saat Yesus mengatakan bahwa jalan salib yang akan ditempuh Yesus akan menggoncangkan iman murid-murid-Nya, Petrus dengan penuh semangat mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi pada dirinya, imannya tidak akan pernah goncang (Mat 26:33; Mrk 14:29). Yesus memperingatkan Petrus akan pernyataannya yang menggebu-gebu ini, bahwa Petrus akan menyangkali Dia. Tetapi Petrus menyanggah hal itu dengan berkata bahwa ia tidak akan menyangkali Yesus meski nyawanya menjadi taruhannya (Mat 26:35;Mrk 14:31). Petrus menyatakan siap dipenjara & mati bersama-sama Yesus (Luk 22:33). Tetapi juga, saat Yesus masih sedang diadili di hadapan Mahkamah Agama Yahudi & status Petrus sebagai salah seorang murid Yesus dipertanyakan, Petrus segera menyangkali hal itu bahkan ia mengutuk & bersumpah bahwa ia tidak mengenal Yesus (Mat 26:69-75; Mrk 14:66-72; Luk 22:56-62; Yoh 18:15-18, 25-27).

Satu-satunya Rasul yang Pernah Menegor Yesus
Ketika Yesus sedang bicara perihal diri-Nya sebagai Anak Manusia yang akan menanggung penderitaan, Petrus menegor Yesus rupanya dengan maksud bahwa Yesus tidak boleh bicara seperti itu karena Petrus berharap penderitaan Yesus itu akan dijauhkan Allah Bapa dari-Nya. Maka marahlah Yesus kepada Petrus sebab penderitaan jalan salib yang harus ditanggung Yesus adalah kehendak Bapa bagi keselamatan dunia (Mat 16:21-23; Mrk 8:31-33).

Suka Berkomentar & Bertanya
Petrus paling tanggap terhadap apa yang disampaikan atau ditanyakan Yesus dan apa yang didengar & dilihatnya. Petrus langsung mengomentari pertanyaan Yesus tentang siapa yang menjamah Dia dari antara kerumunan orang banyak (Luk 5:8). Petrus berkomentar tentang pohon ara yang kering karena dikutuk oleh Yesus (Mrk 11:21), tentang pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus (Yoh 13:6,8-9), meminta Yesus menjelaskan arti perumpamaan-Nya (Mat 15:15), menanyakan hal pengampunan, & hal-hal lainnya (Mrk 13:3 Luk 12:41; Yoh 6:68; 13:36,37; Mat 17:4: Mrk 9:5; Luk 9:33). Petrus juga tanpa sungkan mengatakan kepada Yesus bahwa ia dan rasul lainnya sudah meninggalkan segala sesuatu guna mengikut Yesus & oleh karena itu Petrus menanyakan apa upah yang akan mereka peroleh dari pengorbanan mereka itu (Mat 19:27; Mrk 10:28; Luk 18:28).

Mendapat Kepercayaan Yesus
Petrus & Yohanes tampaknya mendapat kepercayaan Yesus untuk mengerjakan hal-hal yang penting bagi-Nya. Petrus & Yohanes diberi tanggung jawab oleh Yesus untuk mempersiapkan Perjamuan Malam terakhir Yesus & murid-murid-Nya (Luk 22:8). Nama Petrus juga disebutkan secara khusus oleh Malaikat Tuhan sebagai seorang di antara murid-murid Yesus yang harus segera diberitahukan perihal kebangkitan Yesus (Mrk 16:7). Petrus juga mendapat kepercayaan Yesus sesuai dengan arti namanya “batu” atau “batu karang” bahwa dengan kerja kerasulan Petrus Yesus akan mendirikan gereja-Nya setegar batu karang (Luk 16:18). Tugas pengembalaan ini ditegaskan kembali oleh Yesus di masa perjumpaan-Nya dengan murid-murid-Nya sesudah kebangkitan-Nya (Yoh21:15-17).

Tindakan Heroik
Rupanya bila Petrus berada jauh dari Yesus, Petrus bisa saja menyangkal Yesus, tetapi bila Petrus berada tidak jauh dari Yesus, Petrus tampil sebagai pribadi pemberani yang mau melakukan apapun bagi Yesus, sekalipun tindakannya itu justru ditentang oleh Yesus. Tindakannya menebas telinga Malkhus, hamba Imam Besar, yang datang hendak menangkap Yesus di taman Getsemani mendapat kecaman dari Yesus (Mat 26:51-54; Mrk 14:47; Luk 22:5-51; Yoh 18:10-11).

Menyadari Kesalahan
Selain memiliki karakter emosional yang keras, Petrus juga memiliki emosional keinsafan yang tinggi. Ketika Yesus berkata kepadanya untuk menebarkan jalanya di tempat yang lebih dalam agar mendapatkan ikan, Petrus dengan jujur mengatakan kepada Yesus bahwa ia mengikuti arahan Yesus itu hanya karena Yesus yang menyuruhnya, tetapi Petrus meragukan hasilnya sebab ia & nelayan lainnya telah sepanjang malam mengusahakan hal itu namun mereka tidak mendapatkan seekor ikan pun. Tetapi kenyataan membuktikan kebenaran perkataan Yesus. Mereka mendapatkan ikan dalam jumlah yang besar. Jala mereka terkoyak, perahu-perahu mereka nyaris tenggelam karena sarat dengan ikan. Menyadari bahwa ia sempat meragukan perkataan Yesus, maka Petrus tersungkur di hadapan Yesus & mengakui kesalahannya (Luk 5:4-8). Rasa yang sama pun menyelimuti hati Petrus tatkala kebenaran perkataan Yesus akan penyangkalannya terbukti. Saat ayam berkokok, dari dalam ruangan sidang Yesus berpaling memandang Petrus. Luruh hati Petrus menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Petrus meninggalkan tempatnya, keluar & menangis dengan sedihnya(Mat 26:75; Mrk 14:72; Luk 22:61).

Berjalan di atas Air
Satu-satunya rasul Yesus yang sulit ditebak, itulah Petrus. Bicaranya spontan, tindakannya pun tidak kalah mengejutkan. Turun dari perahu yang mengapung di tengah danau, Petrus meniru Yesus berjalan di atas air. Walau akhirnya ia mulai tenggelam, Petrus telah membagikan pelajaran iman yang berharga bagi banyak orang yang percaya (Mat 14:28-31).

Petrus yang Dibaharui
Tanpa disadari oleh Petrus sendiri, dalam pemanggilan Petrus menjadi rasul-Nya & dalam kebersamaan Petrus dengan Yesus, Yesus membentuk Petrus menjadi pribadi yang diubahkan oleh-Nya. Dari orang yang cepat, mengaku, cepat menyangkal, cepat bertindak, & lain sebagainya yang dapat saja mengesankan adanya kelemahan selain kekuatan pada dirinya, Petrus menjadi pribadi yang kokoh dalam imannya kepada Yesus. Petrus menjadi rasul besar yang gigih berjuang menyebarkan & mempertahankan kemurnian Injil Kristus, dipenjara bahkan mati dengan cara yang sama dengan Yesus, yakni disalibkan. Menurut tradisi, penyaliban Petrus dilakukan dengan salib terbalik di Roma saat pemerintahan Nero (kr 64 M). Petrus menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus. Petrus dimakamkan di tempat yang kini persis di bawah altar utama Basilika Santo Petrus di Vatikan. Gereja Roma Katolik mencatat Rasul Petrus atau Santo Petrus sebagai Paus pertama mulai kurang lebih tahun 30 sM s/d akhir hidupnya

Rabu, 07 Mei 2014

YEREMIA

Yeremia, ( Ibrani, ירמיה - YIRMEYAH, 'YHVH telah menunjuk')


Yeremia dilahirkan di Anatot sekitar tahun 650 sM. Ia itu putera Imam Hilkia. Dalam tahun ke-3 pemerintahan raja Yosia (627) ia dipanggil menjadi nabi. Kata-kata kenabiannya yang terakhir diucapkan setelah hancurnya Yerusalem (587/586, badingkank.: Yeremia 44:1-30).

Kata-kata kenabiannya tidak ada yang diucapkan pada kurun waktu antara tahun 622 dan 609 (tahun raja Yosia meninggal). Boleh jadi pembaharuan ibadat deuteronomis dipandangnya sebagai pemenuhan tuntutan-tuntutannya. Kita banyak diberitahu oleh Kitab Yeremia tentang keadaan para raja Yehuda yang terakhir, terlebih-lebih perihal pengepungan Yerusalem. Orang kerajaan Yehuda diancam dengan hukuman oleh Yeremia karena dosa-dosa mereka. Pandangan salah yang hidup dikalangan luas di tengah rakyat juga dikecamnya. Ditentangnya politik yang resmi.

Ia juga berusaha, agar Zedekia (597-587) memutuskan untuk menyerah pada Babilon. Setelah kota Yerusalem direbut, Yeremia dibebaskan oleh orang-orang Masduk dan sahabatnya Gedalya dijadikan penguasa kota. Setelah Gedalya dibunuh, orang-orang Israel memaksa Yeremia untuk ikut pergi mengungsi. Dengan demikian berakhirlah berita-berita tentang Yeremia. -- Di dalam pengakuan-pengakuan atau monolog-monolognya (Yeremia 11:18-12:6; Yer 15:10-21; 17:12-18; 18:18-23; 20:7-18) Yeremia menunjukkan dirinya sebagai orang saleh dan peka atas sesuatu. Ia seorang yang jujur dan terbawa pada panggilan kenabiannya secara mutlak (Yeremia 16:1-9). -- Kitab-kitab yang dilakukan padanya adalah:
1. Kitab Yeremia 2. Surat Yeremia (Kitab Barukh, Deuteronanika) 3. Ratapan

SURAT YEREMIA :
Sepucuk surat deuterokanonik. Di dalam terjemahan-terjemahan kuno muncul sebagai bab 6 Kitab --> Barukh. Barangkali asal-mula surat itu ditulis oleh seorang Yahudi Babilon dalam bahasa Ibrani. menjelang akhir zaman Persia atau awal zaman Helenis.

KITAB YEREMIA:
(1). Isi dan naskah. Corak khas dari tulisan Yeremia adalah hubungan "kata" kenabian yang dikaitkan dengan cerita-cerita. Beberapa di antaranya dibuat dalam bentuk-Aku. Kebanyakan dibuat dalam bentuk-dia. Menyolok sekali perbedaan bentuk naskah pada naskah Masorit. Bukan semua penghapusan dibebankan pada kesalahan-kesalahan terjemahan ataupun salinan. Sebab bagian dari penghapusan itu dibuat dengan sengaja. Adapun garis besar tradisi naskah Masorit adalah: (a) 1-39 mengungkapkan peristiwa sampai pada jatuhnya Yerusalem (Urutan kronologisnya: 1-25; janji-janji hari depan: 26-35; penderitaan Yeremia : 36-39). (b) 40-45 mengungkapkan waktu-waktu berikutnya. (c) 46-51: Nubuat soal para bangsa asing. (d) Tambahan historis 52 (2 Raja 24:18-20; 25:21,27-30).

Perbedaan-perbedaan corak, sifat serta sebagian theologi dari bagian perincian itu tergantung dari perbedaan berbagai-macam sumber. Menurut pandangan tradisionil dikatakan, bahwa kata-kata Yeremia dan catatan-catatan autobiografi Kitab itu dikumpulkan oleh --> Barukh (badingkan: bab 36). Para penyelidik modern membagi paraah Kitab itu dalam tiga sampai empat sumber (dengan tambahan-tambahan yang dilakukan di kemudian harinya). Keadaan yang pasti mengenai "naskah aslinya" tidak dapat ditetapkan secara tepat.

Arti teologis Yeremia terutama terletak pada pengertian Tuhan yang jelas dan mirip dengan Hosea. Tuhan adalah mempelai pria bangsa murtad, yang dicintainya dengan kasih abadi. Rakhmat ditawarkanNya sebagai pengganti keadilan. Hubungan perjanjian yang biasanya lebih mudah dipandang yuristis diberi pengertian rokhani dan pribadi oleh Yeremia. Dalam keadaan demikian hubungan perjanjian tidak didasarkan atas suatu ikatan nasional, tetapi didasarkan pada ikatan pribadi dengan Tuhan. Perjanjian yang baru tidak mengenal perintah-perintah dan kewajiban-kewajiban, sebab isinya (mengenal Tuhan) tanpa batas seperti kasih itu sendiri yang tidak terbatasi.